IPHRD Kabupaten Bekasi dan IRSchool Gelar IR OUTLOOK 2027 : Memperkuat Kerukunan Industri Menuju Mitra Bisnis Strategis dalam Hubungan Industrial
Cybernews.my.id\\Kabupaten Bekasi ___ Ketua Ikatan Praktisi HRD (IPHRD) Kabupaten Bekasi sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, RR Meilani Aseaningrum, menegaskan bahwa hubungan industrial yang harmonis merupakan aset strategis bagi keberlanjutan dunia usaha. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan “Pengayaan Pengetahuan Tentang Hubungan Industrial” bertema “Enriching Industrial Peace Toward Industrial Relation Strategic Business Partners” di Aula SMK Ananda Mitra Industri Deltamas, Cikarang Pusat pada Jum’at (17/7/2026)
Dalam sambutannya, RR Meilani Aseaningrum mengajak para praktisi Industrial Relations (IR) untuk naik kelas. Menurutnya, praktisi hubungan industrial tidak lagi cukup berperan sebagai administrator ketenagakerjaan atau “pemadam kebakaran” yang hanya menyelesaikan konflik ketika masalah muncul. Sebaliknya, mereka harus menjadi arsitek hubungan industrial yang mampu membangun budaya dialog, kepercayaan, dan kolaborasi sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan.
“Perdamaian industrial bukan sekadar tidak adanya perselisihan, tetapi merupakan aset strategis yang meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan menjaga keberlanjutan perusahaan,” ujar RR Meilani Aseaningrum.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh investasi pada teknologi dan sistem, tetapi juga oleh kualitas hubungan antar manusia di dalam organisasi. Karena itu, penghormatan terhadap martabat pekerja, komunikasi yang terbuka, dan rasa saling percaya harus menjadi budaya kerja.
Melalui kegiatan ini, IPHRD Kabupaten Bekasi mendorong terbangunnya komitmen bersama antara pemerintah, dunia usaha, kawasan industri, asosiasi pengusaha, serikat pekerja, dan praktisi HRD untuk memperkuat hubungan industrial yang harmonis sebagai pilar pembangunan ekonomi daerah.
Menutup sambutannya, RR Meilani Aseaningrum mengingatkan bahwa hubungan industrial harus menempatkan nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama.
“Kita tidak sedang menjaga perdamaian hanya agar perusahaan aman, tetapi agar perusahaan mampu bertumbuh secara manusiawi,” urainya
Suasana semakin reflektif ketika ia menutup sambutan dengan kutipan yang terinspirasi dari pemikiran Kahlil Gibran, mengingatkan bahwa di balik deru mesin produksi dan target bisnis, terdapat manusia yang harus dihargai martabat dan kontribusinya. Pesan tersebut menegaskan bahwa hubungan industrial yang sehat merupakan kunci terciptanya ekosistem industri Kabupaten Bekasi yang produktif, berdaya saing, dan berkeadilan.
Pada kesempatan yang sama, pembicara utama Dr. M. Aditya Warman. MBA menegaskan bahwa disrupsi global menuntut dunia usaha mengubah cara berpikir. Menurutnya, perubahan lanskap bisnis menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan tidak lagi ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan masalah, tetapi oleh kemampuan membaca peluang, mengelola risiko, dan menjaga keberlanjutan bisnis.
Ia menilai banyak praktisi Industrial Relations (IR) masih terjebak pada pendekatan reaktif yang hanya berfokus pada penyelesaian konflik dan kepatuhan regulasi. Padahal, peran IR harus berkembang menjadi mitra strategis yang mampu membaca gejala (symptom), menciptakan dampak (impact), dan menghasilkan keberlanjutan (outcome).
“Praktisi IR yang naik kelas tidak lagi sibuk pada benar atau salah regulasi, tetapi fokus pada impact dan outcome bagi keberlangsungan perusahaan,” tegas Dr. M. Aditya Warman. MBA.
Melalui analogi sederhana, ia menjelaskan bahwa risiko tidak cukup dikelola dengan memadamkan setiap persoalan, melainkan dengan memperbesar dampak positif organisasi sehingga risiko menjadi semakin kecil terhadap pertumbuhan bisnis.
Berbekal pengalaman menangani lebih dari 200 perkara hubungan industrial, Ia menekankan bahwa keberhasilan IR dibangun di atas integritas, etika, dan keberanian mengambil keputusan yang benar, bukan sekadar mempertahankan ego organisasi.
Ia juga membedakan skill dengan capability. Menurutnya, keterampilan teknis saja tidak lagi memadai menghadapi tantangan industri modern. Masa depan membutuhkan praktisi yang mampu menciptakan nilai, kualitas, keberlanjutan, dan dampak jangka panjang bagi perusahaan.
Menutup paparannya, Dr. Aditya mengajak para praktisi IR bertransformasi dari “pemadam kebakaran” konflik menjadi arsitek strategis hubungan industrial yang mampu menjaga harmoni, meningkatkan daya saing perusahaan, dan mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Sementara itu, pembicara kedua, Dr. H. Dani Ramdan, M.T., menegaskan bahwa pengembangan SDM di bidang hubungan industrial harus bergeser dari sekadar memahami regulasi menjadi pembentukan pemimpin hubungan industrial (industrial relations leaders) yang memiliki perspektif strategis.
MIRP – Mastering In Industrial Relations Program. Program yang di gagas oleh Dr.M.Aditya Warman.MBA, Program MIRP ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih kepada para HR Manager yang mengurusi Hubungan Industrial di perusahaan nya.(Red)





