Pemasukan Merosot Tajam, Pemulung Bantargebang Putar Otak Cari Uang Sampingan
Cybernews.my.id\\BEKASI ____ Menurunnya pendapatan harian secara drastis memaksa para pemulung di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantargebang memutar otak demi menyambung hidup. Salah seorang pemulung memutuskan banting stir mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kuli jualan durian sejak Sabtu (22/8/2026).
Langkah ini diambil memanfaatkan momen musim panen durian, petai, dan jengkol di daerah Cikesik, Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten.
Saat ini, pendapatan mengais sampah di TPST Bantargebang anjlok ke kisaran Rp50.000 hingga Rp70.000 per hari. Padahal, tiga bulan lalu mereka masih bisa mengantongi Rp100.000 hingga Rp150.000 harian. Penghasilan yang tersisa sekarang diakui hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan setengah hari.
Menurut Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas), Bagong Suyoto, penurunan drastis penghasilan ini dipicu dua faktor utama:
Kebijakan Pembatasan Residu: Kebijakan Pemprov DKI Jakarta per 1 Agustus 2026 menetapkan bahwa sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang hanya berupa sampah residu.
Pengetatan Zona Pemulung: Aktivitas memulung diperketat pascatragedi longsor sampah pada 8 Maret 2026 yang menelan tujuh korban jiwa.
Ke depan, resiliensi dan mata pencaharian para pemulung diperkirakan makin tergerus oleh berbagai regulasi pemerintah pusat maupun daerah. Salah satunya adalah dorongan proyek Waste-to-Energy (WtE) melalui metode pengolahan sampah insinerasi atau pembakaran secara masif.(Red)





